Active Topics

Prasangka

Forum Khas Untuk Penghuni Dan Bekas Penghuni Rumah Nurul Iman

Moderators: zylajasmine, napisah

Post Reply
User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Mejor General
Mejor General
Malaysia
Posts in topic: 3
Posts: 4396
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 78 times
Gender:

PINGAT

Prasangka

Post by zylajasmine » Tue Apr 30, 2019 10:13 am

Antara Dua Prasangka

Kita sebagai manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal dan pikiran. Sehingga kita bisa mengira dan beranggapan akan suatu hal yang belum menjadi kenyataan. Inilah prasangka.

Ada dua prasangka yang kita ketahui yaitu, prasangka baik dan prasangka buruk. Yang mana pada masing-masing prasangka, sebenarnya ada ukuran yang harus dijaga. Pada tiap-tiap keadaan, ada jenis prasangka yang harus kita utamakan.

Prasangka Baik

Prasangka sudah menjadi naluri kita sebagai manusia. Namun, pertanyaannya adalah prasangka yang mana yang sering ada pada pikiran kita? Semoga prasangka baik yang muncul dalam keseharian kita.

Karena prasangka baik, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga padahal sahabat tersebut masih berada di dunia. Mengapa? Abdullah bin Amr bin Ash -sahabat nabi yang lain- penasaran dan akhirnya mencoba ikut bermalam selama tiga hari dengan beliau. Ternyata amalan beliau juga biasa-biasa. Tapi, yang menjadi penting adalah beliau selalu berprasangka baik kepada siapa saja. Selalu memaafkan dan menghilangkan rasa dengki yang ada. Sehingga ini yang membuat beliau dijamin surga. Dan justru ini yang sulit yang dilakukan oleh kita, manusia pada umumnya.

Berprasangka baik harus kita lakukan siapa saja. Kepada diri sendiri, agar selalu semangat dalam memperjuangkan hidup kita. Kepada orang lain, karena selalu ada kebaikan dalam tiap-tiap manusia. Kepada Allah SWT, karena prasangka-Nya tergantung dari prasangka kita.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.’" 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Begitu pula sangkaan yang lainnya. Tetapi, sangkaan kita juga harus selaras dengan amalan. Prasangka baik sudah seharusnya membuat kita semakin semangat dalam berbuat kebaikan. Karena kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalas semua prasangka.
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Mejor General
Mejor General
Malaysia
Posts in topic: 3
Posts: 4396
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 78 times
Gender:

PINGAT

Re: Prasangka

Post by zylajasmine » Tue Apr 30, 2019 10:14 am

zylajasmine wrote:
Tue Apr 30, 2019 10:13 am
Antara Dua Prasangka

Kita sebagai manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal dan pikiran. Sehingga kita bisa mengira dan beranggapan akan suatu hal yang belum menjadi kenyataan. Inilah prasangka.

Ada dua prasangka yang kita ketahui yaitu, prasangka baik dan prasangka buruk. Yang mana pada masing-masing prasangka, sebenarnya ada ukuran yang harus dijaga. Pada tiap-tiap keadaan, ada jenis prasangka yang harus kita utamakan.

Prasangka Baik

Prasangka sudah menjadi naluri kita sebagai manusia. Namun, pertanyaannya adalah prasangka yang mana yang sering ada pada pikiran kita? Semoga prasangka baik yang muncul dalam keseharian kita.

Karena prasangka baik, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga padahal sahabat tersebut masih berada di dunia. Mengapa? Abdullah bin Amr bin Ash -sahabat nabi yang lain- penasaran dan akhirnya mencoba ikut bermalam selama tiga hari dengan beliau. Ternyata amalan beliau juga biasa-biasa. Tapi, yang menjadi penting adalah beliau selalu berprasangka baik kepada siapa saja. Selalu memaafkan dan menghilangkan rasa dengki yang ada. Sehingga ini yang membuat beliau dijamin surga. Dan justru ini yang sulit yang dilakukan oleh kita, manusia pada umumnya.

Berprasangka baik harus kita lakukan siapa saja. Kepada diri sendiri, agar selalu semangat dalam memperjuangkan hidup kita. Kepada orang lain, karena selalu ada kebaikan dalam tiap-tiap manusia. Kepada Allah SWT, karena prasangka-Nya tergantung dari prasangka kita.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.’" 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Begitu pula sangkaan yang lainnya. Tetapi, sangkaan kita juga harus selaras dengan amalan. Prasangka baik sudah seharusnya membuat kita semakin semangat dalam berbuat kebaikan. Karena kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalas semua prasangka.

Prasangka Buruk

Di era sosial media, kita menjadi lebih sering melihat dan menduga. Banyaknya informasi yang masuk membuat pikiran kita menjadi terlena. Hal ini mengakibatkan timbul banyaknya berbagai prasangka dalam pikiran kita. Termasuk prasangka yang tercela.

Informasi yang ada di sosial media, belum tentu itu fakta. Dan apa yang ada dalam prasangka kita, belum tentu menjadi nyata. Yang kita sangka buruk dari orang lain, belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Maka dari itu, prasangka buruk yang tersampaikan adalah bagian dari dusta.

Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Prasangka yang buruk adalah awal dari perbuatan tercela lainnya. Seperti mencela orang lain, mencari-cari kesalahannya, hingga pada akhirnya menghakimi mereka. Apalagi sosial media membuat semakin mudah untuk melakukannya. Hanya sekedar beberapa ketuk jari, tampillah komentar kita. Maka, sudah seharusnya kita menjadi semakin waspada akan godaan-godaan prasangka. Apakah kita mau memakan bangkai saudara?

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Mari mulai saat ini juga, hindarkan diri kita dulu dari prasangka yang buruk. Baru kemudian orang-orang terdekat dan teman, kita bujuk. Mari bersama-sama istighfari diri kita. Memohon ampun atas segala prasangka yang sudah telanjur tersampaikan ke orang lain maupun sosial media.
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Mejor General
Mejor General
Malaysia
Posts in topic: 3
Posts: 4396
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 78 times
Gender:

PINGAT

Re: Prasangka

Post by zylajasmine » Tue Apr 30, 2019 10:17 am

zylajasmine wrote:
Tue Apr 30, 2019 10:14 am
zylajasmine wrote:
Tue Apr 30, 2019 10:13 am
Antara Dua Prasangka

Kita sebagai manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal dan pikiran. Sehingga kita bisa mengira dan beranggapan akan suatu hal yang belum menjadi kenyataan. Inilah prasangka.

Ada dua prasangka yang kita ketahui yaitu, prasangka baik dan prasangka buruk. Yang mana pada masing-masing prasangka, sebenarnya ada ukuran yang harus dijaga. Pada tiap-tiap keadaan, ada jenis prasangka yang harus kita utamakan.

Prasangka Baik

Prasangka sudah menjadi naluri kita sebagai manusia. Namun, pertanyaannya adalah prasangka yang mana yang sering ada pada pikiran kita? Semoga prasangka baik yang muncul dalam keseharian kita.

Karena prasangka baik, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga padahal sahabat tersebut masih berada di dunia. Mengapa? Abdullah bin Amr bin Ash -sahabat nabi yang lain- penasaran dan akhirnya mencoba ikut bermalam selama tiga hari dengan beliau. Ternyata amalan beliau juga biasa-biasa. Tapi, yang menjadi penting adalah beliau selalu berprasangka baik kepada siapa saja. Selalu memaafkan dan menghilangkan rasa dengki yang ada. Sehingga ini yang membuat beliau dijamin surga. Dan justru ini yang sulit yang dilakukan oleh kita, manusia pada umumnya.

Berprasangka baik harus kita lakukan siapa saja. Kepada diri sendiri, agar selalu semangat dalam memperjuangkan hidup kita. Kepada orang lain, karena selalu ada kebaikan dalam tiap-tiap manusia. Kepada Allah SWT, karena prasangka-Nya tergantung dari prasangka kita.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.’" 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Begitu pula sangkaan yang lainnya. Tetapi, sangkaan kita juga harus selaras dengan amalan. Prasangka baik sudah seharusnya membuat kita semakin semangat dalam berbuat kebaikan. Karena kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalas semua prasangka.

Prasangka Buruk

Di era sosial media, kita menjadi lebih sering melihat dan menduga. Banyaknya informasi yang masuk membuat pikiran kita menjadi terlena. Hal ini mengakibatkan timbul banyaknya berbagai prasangka dalam pikiran kita. Termasuk prasangka yang tercela.

Informasi yang ada di sosial media, belum tentu itu fakta. Dan apa yang ada dalam prasangka kita, belum tentu menjadi nyata. Yang kita sangka buruk dari orang lain, belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Maka dari itu, prasangka buruk yang tersampaikan adalah bagian dari dusta.

Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Prasangka yang buruk adalah awal dari perbuatan tercela lainnya. Seperti mencela orang lain, mencari-cari kesalahannya, hingga pada akhirnya menghakimi mereka. Apalagi sosial media membuat semakin mudah untuk melakukannya. Hanya sekedar beberapa ketuk jari, tampillah komentar kita. Maka, sudah seharusnya kita menjadi semakin waspada akan godaan-godaan prasangka. Apakah kita mau memakan bangkai saudara?

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Mari mulai saat ini juga, hindarkan diri kita dulu dari prasangka yang buruk. Baru kemudian orang-orang terdekat dan teman, kita bujuk. Mari bersama-sama istighfari diri kita. Memohon ampun atas segala prasangka yang sudah telanjur tersampaikan ke orang lain maupun sosial media.
Ukuran dan Keadaan

Dalam berprasangka, alangkah baiknya jika kita mengetahui ukuran dan keadaan. Karena semua yang berlebihan berakhir menjadi tidak menawan. Hal ini berlaku untuk prasangka yang baik maupun buruk yang telah kita lakukan.

Kita hidup dalam dunia dimana orang-orang berprasangka baik kepada kita. Sosial media menarik kita untuk menampilkan apa yang baik-baik saja. Sehingga prasangka baik mereka, hanya di permukaan saja. Padahal jika orang lain tau keburukan kita, mungkin dia akan pergi menjauh. Bersyukur rasanya, Allah SWT rela menutupi aib yang ada di seluruh tubuh.

Maka, jangan sampai prasangka baik orang lain membuat kita lengah. Kita harus mau mengakui bahwa diri ini masih penuh lupa dan salah. Sehingga terhadap sangkaan baik mereka, harusnya memacu kita berbuat yang sesuai dengannya atau bahkan lebih baik daripadanya.

Begitu pula dengan prasangka buruk, ada kondisi dimana kita diperbolehkan untuk melakukannya. Sehingga tidak semua prasangka buruk, diharamkan perbuatannya. Karena ini adalah salah satu bentuk waspada dari kejahatan dan kemungkaran yang akan dilakukan siapa saja.

Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Fathil Qadir berkata, “Untuk orang jahat, berakhlak jelek, menurut kami, kita boleh memiliki suudzan sesuai yang mereka tampakkan.”

Islam mengajarkan kita untuk tidak membiarkan kejahatan atau kemungkaran. Sehingga pada keadaan seperti inilah prasangka buruk diperbolehkan. Kemudian hendaklah kita mengubahnya semampu mungkin, jika kita melihat jelas ada perbuatan kejahatan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa di antara dua prasangka ada ukuran dan keadaannya. Sehingga kita harus hati-hati dalam setiap prasangka. Kita juga harus mengerti bahwa pertengahan adalah sebaik-baik prasangka. Karena kita tak selalu baik dalam pandangan manusia. Karena kita juga tak seburuk apa yang terlintas di hati mereka. Semoga kita dijadikan yang lebih baik daripada apa yang orang lain sangka. Semoga Allah SWT mengampuni kita atas aib-aib yang tidak diketahui mereka.

Aku tak sebaik apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu. (Ali bin Abi Thalib)
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

Post Reply

Return to “Penghuni Rumah Nurul Iman”